Artificial-Intelligence

Ancaman Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) terhadap Generasi Muda Indonesia

Saat ini, kita sering mendapatkan informasi mengenai apa itu Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Di muatan berita apapun sering memberikan info terbaru terkait perkembangan kecerdasan buatan yang begitu cepat. Dengan kecerdasan buatan, secara tidak langsung mengambil ahli fungsi sebagian pekerjaan manusia. Sebagai contoh di China, mereka telah meresmikan presenter berita dengan teknologi kecerdasan buatan pertama di dunia pada tahun 2018.

Pada era Industri 4.0, teknologi kecerdasan buatan merupakan salah satu pendorong utama yang  mendukung implementasi teknologi di semua lini kehidupan mulai dari bidang pertanian, kesehatan atau bahkan pendidikan. Dengan adanya kecerdasan buatan, otomatisasi membuat produk dalam berbagai bidang akan menjadi berkali-kali lipat lebih mudah, rapi dan cepat.

Dibalik kemudahan yang diberikan oleh teknologi, ada dampak besar yang mengintai manusia  yaitu, pengangguran. Dalam sebuah penelitian yang diselidiki secara luas berdasarkan statistik, Carl Benedikt dan Michael Osborne memperkirakan bahwa sekitar 47 persen karyawan di AS berisiko kehilangan karier mereka di abad ke-21 karena teknologi kecerdasan buatan. Tidak hanya di Amerika, Deloitte yang berkolaborasi dengan Carl Benedikt dan Michael Osborne menyatakan bahwa 35 persen pekerjaan di Inggris berisiko tinggi terhadap komputerisasi dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.

Beberapa peneliti dan pengembang menyatakan bahwa kecerdasan buatan dapat tumbuh sangat kuat, dan itu akan menjadi masalah bagi manusia untuk dikendalikan. Kecerdasan buatan dikembangkan dengan memperkenalkan sebanyak mungkin kecerdasan manusia, seperti kapasitas untuk berlogika, pemahaman, kesadaran diri, pembelajaran, pengetahuan emosional, perencanaan, kreativitas, dan penyelesaian masalah.

Baca Juga: Belajar Sambil Bermain di Bias Education

Jika itu terjadi, manusia tampaknya akan terancam, dan itu mungkin menjadi ancaman besar bagi keselamatan kita. Stephen Hawking, yang merupakan salah satu ilmuwan paling berpengaruh saat ini, percaya bahwa umat manusia dalam bahaya kehancuran diri karena teknologi kecerdasan buatan. Dalam wawancaranya dengan WIRED Hawking mengatakan, “AI yang sangat cerdas akan sangat baik dalam mencapai tujuannya, dan jika tujuan itu tidak selaras dengan tujuan kami, kami dalam masalah.”

Disisi lain, Indonesia  diprediksi  akan  mengalami  bonus  demografi dimana jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen dan sisa 30 persennya, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15  tahun  dan  diatas  65  tahun ). Bersamaan dengan adanya era industri 4.0, bonus demografi Indonesia terutama generasi muda akan menghadapi tantangan besar, yang mana produktifitas generasi muda akan bersaing dengan teknologi kecerdasan buatan.

Namun melihat karakteristik kecerdasan buatan sekarang tidaklah se-progresif manusia, yang mana sifat alami manusia yaitu selalu berkembang seiring berkembangnya teknologi. Sangat berbeda dengan kecerdasan buatan yang hanya bisa bekerja berdasarkan data yang tersedia, sehingga bila data tidak ter-input dengan baik akan berujung dengan jawaban atau tanggapan yang tidak tepat, saat ini kecerdasan buatan baru bisa berkembang pada tahapan narrow AI/ weak AI, dimana pengolahan data  diterapkan untuk melakukan tugas-tugas yang terbatas seperti yang biasa Anda perintahkan kepada Siri, Cortana, dan Google Assistant.

Jika ditinjau dari segi progresifitasnya, generasi muda sekarang sangat bisa lebih unggul dibandingkan teknologi kecerdasan buatan asalkan generasi muda tersebut mempunyai kemauan untuk terus belajar dan berkembang di era teknologi ini ,supaya tidak tertinggal jauh. Namun disisi lain ada general AI atau strong AI yang akan terus dikembangkan oleh para ilmuwan, dimana kecerdasan buatan dapat belajar dan beradaptasi untuk nantinya melakukan tantangan atau tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia.

Ini merupakan tantangan yang lebih besar lagi bagi generasi muda sekarang. Jika generasi muda yang ada sekarang terhipnotis dengan kemewahan teknologi dan memiliki pola konsumtif tanpa ingin mengembangkan diri untuk jauh diatas teknologi, maka generasi muda sendiri akan dikalahkan dengan teknologi kecerdasan buatan dan 70 persen usia produktif yang di gadang-gadang akan menjadi agen perubahan Indonesia hanya akan menjadi pengabdi teknologi dan tidak bisa mensiasati masalah yang akan dihadapi.

Baca Juga: Kuatkan Ibadah, Belajar Menjadi Berkah

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Comments are closed.