apa itu gap year

Apa Itu Gap Year dan Pengalaman Berharga Sebagai Gap Year Taker

Istilah gap year semakin sering saja kita dengar terutama di kalangan siswa SMA terlebih yang akan segera lulus. Sobat Bias sendiri apakah sudah tahu apa itu gap year? Maknanya lebih kurang adalah lulusan SMA yang menunda kuliah selama setahun dengan berbagai alasan.  

Ini antara lain karena kondisi keuangan, ingin mencari pengalaman, gagal masuk kampus yang diinginkan, atau ingin mempersiapkan diri memasuki dunia kampus. 

Bagaimana? Kamu tertarik menjadi gap year taker? Sebelumnya kamu perlu tahu beberapa poin penting berikut.

Keuntungan yang Bisa Dapatkan Dengan Menjadi gap year Taker

Memilih gap year bisa jadi mendatangkan banyak tentangan dari orang-orang terdekat yang masih asing pilihan tersebut. Namun jika dapat meyakinkan mereka, terutama orang tua inilah sisi positif yang bisa Sobat Bias dapatkan.

  • Lebih percaya diri mengulang SBMPTN

Dengan waktu persiapan yang lebih panjang serta mengikuti bimbel gap year yang terpercaya kamu jadi semakin siap dan pede menghadapi tes. Peluang untuk diterima di jurusan dan universitas favorit idaman Sobat Bias juga jadi lebih besar.

  • Terhindar dari salah jurusan

Berapa sering kita mendengar mahasiswa yang terpaksa DO dari kampusnya dengan alasan salah pilih jurusan. Tentunya sulit menjalani proses perkuliahan jika bidang yang ditekuni ternyata kurang sesuai minat atau bukan passion kamu. 

Nah, selama gap year kamu punya waktu untuk introspeksi diri dan mengkaji ulang mengenai rencana masa depanmu. Dengan begitu kamu jadi lebih mantap mengambil keputusan.

  • Berpeluang lebih besar untuk meraih prestasi

Ternyata mereka yang memilih gap year SMA juga mempunyai keyakinan yang lebih besar terkait studinya. Dengan begitu mereka berpotensi untuk meraih prestasi yang lebih baik serta lulus lebih cepat daripada mahasiswa yang kurang menyukai jurusan kuliahnya.

Tips Sukses Bagi Para gap year Taker

Gambar: https://www.instagram.com/p/CSifhdShITN/

Bagaimana agar masa gap year benar-benar memberi kontribusi yang positif bagi masa depan Sobat Bias? Beberapa kiat ini mungkin dapat membantu.

  • Buang kebiasaan bermalas-malasan

Jangan sampai gap year menjadi alasan untuk kamu yang sebenarnya ingin bersantai dan malas-malasan. Jadi singkirkan dulu kebiasaan rebahan, begadang, main game, dan aktivitas-aktivitas non produktif lainnya agar tidak kehilangan manfaat sejati gap year.

  • Memantapkan niat

Menjadi gap year taker adalah sebuah keputusan besar sehingga kamu perlu memastikan inilah yang memang kamu inginkan. Selanjutnya kamu bisa menyusun rencana apa saja kegiatan positif yang dapat kamu lakukan agar masa jeda sebelum memasuki dunia perkuliahan ini benar-benar memberi dampak yang positif.

  • Menyiapkan mental

Mulai dari ketidaksetujuan dari lingkungan terdekat, sampai rasa minder melihat aktivitas di kampus teman-teman seangkatan adalah tantangan pertama kamu. Tetap tenang dan yakinkan diri bahwa keputusan kamu sudah tepat demi masa depan. 

Lagi pula kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh kapan yang bersangkutan mulai kuliah.

  • Mengikuti program bimbel gap year

Agar gap year lebih terarah kamu bisa bergabung dengan bimbel gap year yang digelar lembaga berpengalaman dan profesional. Salah satunya adalah Bias Education, sahabat para gap year taker dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. 

Kami memiliki Bias Learning System yang tidak hanya membantumu masuk kampus favorit tapi juga meningkatkan kualitas pribadi kamu.

Peserta juga akan dibimbing oleh tutor profesional dengan latar belakang pendidikan sampai S2. Ada juga program mentoring dan konseling untuk memilih jurusan dan kampus yang paling ideal sesuai minat kamu. 

Nah, jadi semakin tertarik mencoba pengalaman gap year SBMPTN bersama Bias Education, bukan?Sekarang kamu sudah semakin tahu mengenai apa itu gap year dan referensi bimbel terbaik dengan gap year activity untuk meningkatkan skill kamu. Yuk daftar sekarang!

bimbel UTBK

Bias Education: Bimbel UTBK Untuk Tembus SBMPTN Kampus Favorit

Tahukah Sobat Bias jika di tahun 2021 ini jumlah peserta SBMPTN yang sukses masuk ke kampus impiannya hanya sebesar 23,78% saja. Terbilang kecil, bukan? Inilah alasannya kamu perlu bergabung dengan bimbel UTBK terpercaya dan berpengalaman untuk meningkatkan peluang diterima di universitas idaman.

Salah satunya adalah Bias Education yang akan membantumu membentuk pola pikir kritis untuk menyelesaikan soal-soal UTBK yang rumit.

Bimbel UTBK Bias Education Tawarkan Lebih Dari Sekedar Tembus Kampus Idaman

Faktanya, berhasil kuliah di universitas favorit tidak menjamin masalah kamu sudah selesai. Dunia kampus jauh berbeda dengan menempuh pendidikan di tingkat SMA dan setiap mahasiswa baru perlu melakukan proses adaptasi secepat mungkin. Sayangnya bagi beberapa maba ini bukanlah hal yang mudah.

Kondisi ini tidak jarang menimbulkan keraguan misalnya merasa salah jurusan, sulit berkompetisi secara sehat, atau kurang mampu mengelola masalah dan stress. Yang jadi taruhannya tentunya prestasi mahasiswa yang bersangkutan.  

Hal ini tidak akan terjadi jika kamu melakukan persiapan matang sejak jauh-jauh hari bersama bimbel SBMPTN gap year kami. Pasalnya, alih-alih menjejali peserta dengan berbagai materi dan latihan soal saja, kami juga menyediakan layanan terkait orientasi dunia kampus.

Ini termasuk konsultasi pemilihan jurusan dan universitas sesuai passion kamu dan kiat-kiat sukses menjadi mahasiswa sukses dan berprestasi kelak.

Jadi jangan ragu untuk jadi gap year taker jika kamu justru dapat mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan sebagai bekal masa depan.

Sekilas Tentang Program Gap Year Bias Education

Untuk Sobat Bias yang masih asing dengan istilah gap year, ini artinya lulusan SMA yang memilih menunda melanjutkan studi perkuliahan. Tujuannya adalah agar memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri agar mampu bersaing memperebutkan tempat di kampus idaman.

Program bimbel UTBK termurah kami memang dirancang khusus bagi para gap year taker dengan beragam fasilitas pengembangan diri, yaitu:

  • Kelas intensif bimbel UTBK SBMPTN

Dengan tutor-tutor terbaik berlatar-belakang pendidikan sarjana sampai magister peserta akan mendapatkan pendampingan belajar intensif, try out rutin, dan konsultasi persiapan SBMPTN 2022.

  • Orientasi tentang universitas

Sangat penting bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan pembekalan terkait dunia kampus untuk memudahkan menyesuaikan diri. Ini termasuk tips sukses dalam dunia perkuliahan. 

Selain itu tak perlu lagi khawatir salah pilih jurusan/kampus karena kamu akan mendapatkan pendampingan dari konsultan pendidikan profesional.

  • Pendalaman Bahasa Inggris

Bias Education berlokasi di Kampung Inggris yang sejak tahun 70-an sudah populer sebagai tempat memperdalam Bahasa Inggris dalam suasana kondusif. Skill Bahasa Inggris akan sangat diperlukan saat studi perkuliahan nanti apa pun jurusan pilihan kamu.

  • Kegiatan positif di masa gap year

Menunda kuliah setahun akan sangat worth it karena kamu akan mengisinya dengan berbagai aktivitas pengembangan diri yang positif. Ini antara lain pemantapan hard skill, soft skill, spiritual building, character building, dan sebagainya yang terintegrasi dalam program gap year kami.

Sejak 11 tahun beroperasi program bimbel UTBK Bias Education telah diikuti total hingga 2385 peserta dengan tingkat keberhasilan hingga 93%. 

Jadi jangan ragu untuk segera daftarkan diri kamu.

event volunteering para gap year untuk menambah wawasan

Kamu Gap Year? Wajib Ikut Volunteering Lah!

Mengikuti volunteering program untuk gap year – Hai Sobat Bias, apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata “volunteering”? Apakah kalian membayangkan orang-orang yang membantu pengungsi saat terjadi bencana alam, atau mungkin memiliki gambaran orang-orang yang sedang bermain dengan anak-anak kecil? Hmm, tidak ada yang salah kok, Sob. Terus, apa sih volunteering program itu? Volunteering merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk membantu maupun berpartisipasi dalam suatu kegiatan, bisa tentang lingkungan, pendidikan, pelestarian cagar budaya, dan masih banyak lagi.

Keterhubungan antara gap year dan mengikuti volunteering program

Lho, terus apa kaitannya dengan gap year wajib ikut volunteering atau kegiatan kerelawanan? Gini, di bangku sekolah kita selalu dijejali ilmu-ilmu dan pengetahuan mengenai banyak hal. Nah, volunteering program ini menjadi ajang mempraktikkan pelajaran yang pernah kita dapat di sekolah. Nggak cuma itu, dengan mengikuti kegiatan kerelawanan, kita juga belajar dari lingkungan luar. Jangan lupa, selalu kosongkan ‘gelas’ agar sanggup menerima lebih banyak pengetahuan, kata-kata Om Bob Sadino yang saya ingat sampai sekarang.

Jadi percaya nggak Sob, dengan mengikuti kegiatan kerelawanan, cepat atau lambat bisa mengubah hidup kita lho! Kalau dirasa-rasakan, setelah ikut volunteering, kita bertemu dengan banyak sekali tipe manusia. Dari situlah kita mulai mengenali perbedaan-perbedaan dan tingkah laku pada tiap manusia. Jika sudah begitu, rasa toleransi akan meningkat. Indah sekali, bukan?

Baca juga : Gap Year Tapi Tetep Punya Pemasukan, Emangnya Bisa?

Volunteering wajib banget bagi kamu yang sedang memutuskan untuk mengambil gap year. “Tapi, aku minder kalau nanti ditanya sekolah di mana, atau kuliah di mana.” Minder sebentar boleh kok, tetapi kita harus cepat sadar kalau yang kita lakukan sekarang ini merupakan bagian dari belajar juga, lho! Belajar mengenai kehidupan. Maka, jawab saja kalau kita sedang memutuskan untuk gap year untuk lebih bisa menggali minat, bakat, dan mencoba hal-hal yang mungkin belum pernah dilakukan ketika belajar di sekolah menengah.

Menjadi Gap year sebenarnya merupakan hal yang sangat lumrah di Eropa. Seorang teman saya dari Jerman mengikuti kegiatan kerelawanan pelestarian cagar budaya di Borobudur untuk mengisi masa jedanya. Yuk, pelan-pelan geser pemikiran yang masih memandang buruk gap year.

Kesimpulan

Masa gap year kita bisa dikatakan sukses jika kita mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan menambah pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Dengan kita ikut volunteering program yang sesuai bidangmu tentunya akan menunjang kesiapan dan keberanian kita menghadapi dunia perkuliahan nanti, Sob! Rajin-rajinlah memanfaatkan media sosialmu untuk berselancar menemukan kegiatan-kegiatan kerelawanan yang sesuai bidangmu ya! Semangat mencari, Sob! (Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Volunteering? Emangnya Berfaedah?

pelaku gap year yang mendapatkan pemasukan

Gap Year Tapi Tetep Punya Pemasukan, Emangnya Bisa?

Gap year yang punya pemasukan – Memutuskan untuk mengambil gap year merupakan sebuah keputusan yang berat. Banyak omongan negatif datang dari tetangga maupun teman kita sendiri. Mengambil gap year berarti mencoba berdamai dengan segala resiko yang mungkin terjadi. No Risk, No Magic. Namun, pernah nggak sih Sobat Bias merasa ingin memiliki pemasukan ketika cuti kuliah? Biar kalau jajan tidak repot-repot meminta kepada orang tua terus-terusan? Hal-hal berikut ini patut dicoba, Sob!

Begini cara buat kalian yang Gap Year dan mau punya pemasukan

1. Mengikuti Lomba

Di saat pandemi seperti ini, kebanyakan lomba secara daring diadakan. Mulai dari lomba menggambar, membuat ilustrasi, menulis, infografis, hingga video blog. Asyik banget kan? Manfaatkanlah kesempatan ini untuk mencari sebanyak-banyaknya lomba yang sesuai dengan minat, bahkan mencoba hal-hal baru. Percayalah, nanti kalau sudah terbiasa, skill kita akan meningkat karena hasil belajar tadi.

2. Mencoba Part-time

Siapa di sini yang mau part-time, entah di toko, restoran, supermarket, hingga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)? Selain mendapatkan pengalaman bekerja, juga bisa nambah uang jajanmu lho, Sob. Wah menarik banget kan? Eitss, tapi kalian harus Pandai-pandai mengatur waktu agar persiapan masuk kuliah lebih maksimal. Ingat ya, ada yang masih harus diperjuangkan, yaitu kuliah.

Baca Juga : Insecurity pada millennials: Penyebab dan Cara mengatasinya

3. Merintis Online Shop

Yakin, kalau gap year nggak keren? Jeda kuliah satu tahun ini bisa dimanfaatkan untuk menyentil jiwa wirausaha kalian, Sob! Coba perkaya dengan membaca buku-buku yang menunjang, mengikuti seminar-seminar, dan mendengarkan pengalaman orang lain, dan masih banyak lagi. Setelah itu, praktikkan ilmu-ilmu tadi dengan menjual barang-barang yang Sobat mau. Sobat harus cekatan dan konsisten lho, tapi jangan sampai menyurutkan semangat belajar untuk masuk kuliah ya.

4. Mengajar Les

Banyak sekali teman-teman gap year yang membantu adik-adik sekolah dasar maupun sekolah menengah mengenai pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tidak ada salahnya kita sambil mengulangi pelajaran agar besok lebih paham. Selain itu, adik-adik pasti akan senang dibimbing oleh kita yang masih agak seumuran. Dari sini, kita bisa juga mendapatkan banyak koneksi dan pengetahuan-pengetahuan baru. Wah, menarik banget kan, Sob? Jadi, apa rencana kamu selanjutnya? (Lena Sutanti, belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca Juga : 4 Gaya Belajar Ekstrovert Untuk Persiapan SBMPTN

beberapa cara tips dan trik dalam melakukan pemilihan jurusan untuk kuliah bagi gap year

Tips Memilih Jurusan Kuliah untuk Para Gap Year

Nih beberapa tips memilih jurusan kuliah – Sobat Bias, sudah memiliki gambaran untuk memilih jurusan kuliah belum? Menurut Sobat, apakah jurusan kuliah lebih penting daripada perguruan tingginya? Ya, itu tergantung preferensi masing-masing. Tapi, kalau boleh menyarankan nih ya, tolong cermati banget apa yang hendak kita pilih untuk dipelajari beberapa tahun ke depan. Syukut-syukur bisa berkuliah di jurusan yang tepat di perguruan tinggi yang diidam-idamkan.

Sobat Bias, apa aja sih yang perlu diperhatikan ketika hendak memutuskan memilih jurusan kuliah?

  • Pastikan Sobat mencari tahu mengenai mata kuliah yang akan diajarkan

Hah, gimana cara nyarinya? Sobat bisa mengunjungi website fakultas masing-masing. Di situ lah mata kuliah yang dipelajari di jurusan tersebut ditampilkan. Setelah itu, coba browsing, dan simpulkan, apakah mata kuliah ini mendukung cita-cita dan membuat diri kita tertantang?

Selain mencari di website fakultas, kalian bisa bertanya langsung dengan kakak tingkat di jurusan tersebut atau berselancar mencari video di YouTube, dengarkan cerita dari mahasiswa maupun dosen tersebut.

Baca juga : 4 Gaya Belajar Ekstrovert Untuk Persiapan SBMPTN

  • Jangan ikut-ikutan teman

Sobat tentunya tidak mau kan mengorbankan masa depan diri sendiri dengan memilih jurusan yang “nggak kamu banget” hanya karena mengejar prestise atau biar bisa bareng dengan teman-temannya. Jangan sampai lah memilih jurusan hanya karena gengsi, nantinya malah kesulitan mengikuti proses perkuliahan selama beberapa tahun. Ngeriiiiii.

  • Buang jauh-jauh keinginan memilih jurusan hanya karena prospek finansial

“Jurusan yang gajinya gede tuh apa aja?” Hadehhhh, sempit banget. Uang memang penting, tapi jangan sampai deh kalau karena hal tersebut kita tersiksa. Pilih jurusan yang di mana kalian bisa menjadi orang yang lebih terbuka dan siap menerima ilmu yang akan diajarkan nanti. Di dunia ini tidak ada yang instan, semua butuh proses.

  • Mengajak diskusi keluarga, teman dekat, orang yang dipercaya, atau psikolog

Ini penting banget Sobat. Mungkin orang tua, teman dekat, dan psikolog bisa membantu mengetahui minat dan memberi saran jurusan yang tepat. Jadikan insight yang mereka berikan itu sebagai referensimu. Pikirkan matang-matang ketika memilih jurusan. Kalau sudah menentukan jurusan yang sesuai, jangan lupa mengoptimalkan usaha dan mempersiapkan ujian yang akan datang jauh-jauh hari. Semoga berhasil! (Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Tips dan Trik Memilih Jurusan Kampus

perpustakaan salah satu tempat potensial dijadikan markas saat masa gap year

Perpustakaan Daerah, Tempat Potensial untuk Markas Segenap Rakyat Gap Year

Jangan patah semangat buat rakyat Gap Year. Jadi selalu istiqomah dalam berusaha dan berdoa ya.

Hai Sobat Bias, memutuskan untuk mengambil gap year bukanlah perkara yang mudah. Ujian dan tantangan datang silih berganti. Walaupun begitu, kita tak boleh menyerah begitu saja. Tolong, ingatlah tujuan awal sebelum memilih dan memutuskan untuk menjadi gap year. Kita tak bisa membuat orang berhenti memberikan stigma negatif kepada para gap year. Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan meningkatkan kualitas diri dengan berbagai upaya, seperti mencari ilmu dengan datang ke perpustakaan di daerah kalian masing-masing.

Hah, nggak salah tuh ke perpustakaan? Nggak sama sekali! Nggak cuma buat baca-baca buku dengan berbagai subjek ilmu, di perpustakaan daerah kita bisa terus up to date dengan membaca koran harian dan majalah edisi terbaru. Nikmat banget kan, Sob? Jangan khawatir, semua itu bisa kita dapatkan secara gratis. Kita hanya perlu membuat kartu perpustakaan. Syarat untuk membuat kartu perpustakaan pun nggak ribet. Siapkan saja kartu tanda penduduk, mengisi formulir, dan foto diri.

Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan.” – Gus Dur

Banyak banget tipe-tipe orang yang datang ke perpustakaan lho, Sob. Ada yang pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, ada pula yang meminjam buku, atau keduanya. Ada yang nongkrong di perpustakaan untuk numpang wifi-an. Selain itu, tak sedikit yang pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas sekolah maupun kuliah. Wah, rajin banget ya, Sob? Eits, tidak hanya itu, ada yang ke perpustakaan buat bengong dan mencari inspirasi. Sampai yang paling ekstrem, pergi ke perpustakaan untuk kencan dengan gebetan. Sering terjadi. Kalian termasuk tipe yang mana, nih?Pengunjung perpustakaan memang beragam, mulai dari anak balita yang mulai dibiasakan oleh orang tuanya, anak sekolah dasar, sekolah menengah, mahasiswa, dosen, sampai orang-orang yang hendak mencari hiburan. Siapapun boleh datang ke perpustakaan asal tetap menjaga kenyamanan bersama. Perpustakaan bisa menjadi ruang aman dan markas untuk segenap rakyat gap year. Kurang nikmat apa lagi? Baca dan pinjam buku gratis, wifi gratis, up to date dengan membaca berita dan tren, bisa ngadem, dan jadi tempat yang enak untuk belajar sebelum masuk dunia perkuliahan. Nggak percaya? Silakan datang dan buktikan sendiri, Sob! (Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Gap Year dan Stigma Negatif yang Melekat

gap year indonesia memiliki banyak kesempatan

Memilih Untuk Gap Year, Siapa Takut?

Memilih untuk gap year di indonesia – Hai Sobat Bias! Ada nggak sih yang masih bingung besok bakal ngambil jurusan apa waktu kuliah? Eits, jangan keburu-buru dan cuma ikut-ikutan aja ya Sob, soalnya itu bakal dijalanin beberapa tahun ke depan. Banyak kan, anak-anak yang katanya salah jurusan dan berangkat kuliah karena terpaksa. Nah, kalau belum bener-bener yakin, jangan takut kalau ingin break sebentar, alias gap year (masa jeda).

Sebelum memutuskan lebih jauh, berikut ini tips-tips untuk kalian yang ingin Gap Year

1. Mantapkan Niat

Keputusan untuk mengambil gap year termasuk keputusan yang besar. Jangan ngambil gap year kalau nggak dari diri sendiri, dan karena paksaan orang-orang di sekitar. Pertimbangkan dan pikirkan rencana-rencana yang akan dilakukan ketika sudah mantap mengambilnya nanti.

Baca juga : Tren Gap Year, Positif atau Negatif ?

2. Siapkan Mental

Ketika kalian mengambil gap year, jangan harap hanya obrolan berisi semangat saja yang keluar dari mulut orang lain. Percayalah, pasti banyak pertanyaan dari orang-orang di sekitar. Desa-desus sudah seperti makanan sehari-hari saja, Sob. Maklum, mungkin pada belum tahu inti dari gap year itu sendiri. Kesabaran kita bakal diuji banget di sini. Tapi, nggak semua tetangga jahat kok. Yok bisa yok! 

3. Buang Rasa Rendah Diri

Kadang, ngelihat temen-temen yang udah kuliah update status di kampus lagi belajar. Kamu juga bisa banget kok belajar materi kuliah. Curi start gitu istilahnya. Gimana caranya? Rajinlah pergi ke perpustakaan yang ada di kotamu! Ajak temen kamu yang gap year juga buat belajar bareng. Asyik banget nggak, tuh? Upgrade diri kamu biar besok waktu kuliah udah terbiasa banyak membaca. 

4. Pinggirkan Dulu Kebiasaan Buruk

Jangan ambil gap year kalau kamu cuma pengen males-malesan aja. Kurangi dulu ya Sob maraton film, chattingan sampe larut, dan rebahannya. Inget, kamu gap year biar bisa menemukan minat dan bakat. Sesekali boleh lah, kalau sampai lupa waktu, ya jangan!

5. Cari Ilmu dan Kenalan dengan Banyak Orang

Sumpah, ini penting pake banget, Sob! Gimana caranya? Jangan ragu buat daftar part-time, jualan online, ikutan seminar-seminar. Kalau aku dulu suka ikut diskusi dan kuliah umum yang diadakan sama universitas. Percaya diri aja walaupun kadang datang sendirian, yang penting dapet ilmu dan kenalan baru. Boleh kamu coba juga, Sob! Jadi, gimana nih, makin mantep buat ngambil masa jeda mu, atau malah tambah ragu-ragu? Apapun keputusan kamu, harus bisa dipertanggungjawabkan nantinya. Yey, semangat merenung kembali! (Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Biaya Gap Year Experience

Gap Year dan Stigma Negatif yang Melekat

Gap Year dan Stigma Negatif yang Melekat

Stigma negatif masyarakat terhadap gap year – Sobat Bias, bagi kalian yang memutuskan untuk menunda kuliah, kalian keren karena sudah berani mengambil keputusan yang besar di umur yang sekarang dan banyak orang yang tidak berani untuk mengambil keputusan besar seperti itu. Sebelum memilih menjadi gap year, pastikan kalian sudah memikirkannya matang-matang dan mengajak orang-orang di sekitar untuk berdiskusi. Tapi, pernah nggak sih, dapet ucapan kayak gini,

Nah, biasanya ini nih Sob Stigma Negatif yang Melekat di Masyarakat Umum

“Buang-buang waktu aja kamu!”

Mon maap ni, definisi buang waktu itu sebenernya gimana sih? Menurutku, membuang waktu itu kalau kita tidak berusaha meningkatkan kualitas diri dan cenderung membuat keputusan dengan tidak sadar. Beda halnya kalau keinginan gap year itu berasal dari diri sendiri, dan ‘masa cuti’ itu dimanfaatkan untuk pengembangan diri.

“Kamu nggak ngambil kesempatan!”

Sebelum memutuskan untuk mendalami suatu program studi, hendaknya kita melakukan riset melalui web universitas, pengalaman orang, dan sesuai dengan minat dan bakat. Nah, kita tidak bisa hanya coba-coba tapi nantinya malah tersiksa karena tidak sesuai harapan.

Baca juga : Gap Year, Siapa Takut?

“Dasar Pemalas”

Lumayan menggelikan sih yang satu ini. Bisa jadi orang yang dianggap pemalas itu malah sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk mengambil gap year. Hati-hati, bisa jadi mereka beberapa langkah lebih maju daripada orang yang hobinya merendahkan.

“Pengangguran ya?”

Wah, ini lagi! Kemungkinan orang yang model begini belum tahu kalau para gap year di luar sana sedang part-time, belajar bahasa asing, membaca buku, mengikuti berbagai lomba, bahkan merintis bisnis!

“Pasti Menyusahkan!”

Hei, para gap year ini justru sedang memperjuangkan mimpinya. Apalagi, anda tidak tingal satu atap dengan mereka, siapa yang berhak menjadi hakim untuk hidup orang lain? Jangan mudah menyimpulkan dan mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar kita ketahui.

“Nggak Pinter!”

Lah, iya dong. Makanya mereka ingin mendapatkan pembelajaran di bangku kuliah. Kalau sudah pintar ya mengajar saja lah. Tiap orang memiliki perspektif mengenai ‘pintar’ itu sendiri.

Jadi gimana dong kalau ternyata masih banyak stigma negatif mengenai orang yang gap year? Hal yang pasti harus kita lakukan adalah menerima kalau kita gap year, jangan menyangkal. Setelah itu, buktikan kepada mereka bahwa kita nggak layak untuk diremehkan. Manfaatkan benar ‘masa cuti’ ini untuk mengeksplorasi minat dan bakat, perluas pergaulan, perbanyak membaca buku, dan mengikuti kegiatan yang mendukung pengembangan diri. Kalau capek ya istirahat, jangan patah semangat. Kita berharga!

(Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Belajar dengan Menyenangkan di Kala Pandemi

outbond bias education - bimbel sbmptn (159)

Serius Mau Gap Year Saat Pandemi?

Gap year saat pandemi – Gimana kabarnya, Sob? Pandemi Covid-19 yang dialami oleh seluruh negara di dunia ini belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera berakhir. Pandemi ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Karena adanya pandemi ini, perguruan tinggi terpaksa melangsungkan perkuliahan dengan sistem daring lagi untuk satu semester ke depan. Wah, satu semester tentunya bukan waktu yamg singkat. Banyak kegiatan yang ditunda, bahkan dibatalkan karena wabah yang melanda ini.

Jujur, karena adanya Covid-19 ini, kita tersentil untuk mengeksplor teknologi di sekitar kita. Sekarang dunia modern membantu kita untuk melakukan berbagai aktivitas walau hanya di rumah saja. Tapi, sensasi bertatap muka itu tetap tak bisa dirasakan, meskipun digantikan dengan teknologi video call.

Berkaca dari pengalaman beberapa bulan berkuliah secara daring, ternyata sukar sekali beradaptasi. Mulai dari kendala sinyal, tugas yang menumpuk, bahkan kuliah tidak kenal waktu. Kuliah daring capeknya malah beberapa kali lipat! Pernahkah terlintas bayangan untuk mengambil gap year saja, Sobat Bias?

Kalau begitu, apa aja sih aktivitas yang bisa dilakukan ketika memilih gap year di kala wabah ini?

1. Mengikuti Berbagai Webinar

Apa saja hal yang pengen kalian ketahui, Sob? Pasti banyak, kan? Manfaatin deh media sosial kamu buat nge-stalk akun-akun universitas, lembaga swadaya masyarakat, kementrian, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Biasanya, mereka rutin menggelar berbagai webinar. Pilih yang sesuai dengan apa yang ingin kamu pelajari, Sob!

2. Mengikuti Program Magang

Di kala pandemi ini ada start up, komunitas, dan perusahaan yang membuka kesempatan magang daring. Nah, manfaatkan kesempatan yang ada. “Tapi aku minder.” “Gimana kalau nggak keterima?”. Kalau kita nggak pernah mengambil risiko, kapan kita akan mendapatkan kejutan yang baik dari usaha yang dilakukan? Tidak ada yang salah dari proses belajar.

3. Aktif mencari Info Lomba

Kalian memiliki skill yang masih ragu-ragu untuk dikembangkan? Sambil melatih skill yang kita punya, bisa loh ikut lomba-lomba yang tersebar di media sosial. Plis, ayo mumpung lagi ada kesempatan. Apalagi, kalau menang kan bisa dapet cuan buat ditabung, biar selesai pandemi bisa belajar di mana saja, di sudut kota, di pantai, di taman, di mall, dan di pasar. Ah, mau bilang jalan-jalan saja kok muluk-muluk begini. Mau mengambil gap year saat pandemi atau tidak, semua keputusan ada di tanganmu. Siap mengambil langkah selanjutnya untuk hidupmu? (Lena Sutanti, belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : 4 Gaya Belajar Ekstrovert Untuk Persiapan SBMPTN

hal positif dan negatif dari tren gap year di indonesia

Tren Gap Year, Positif atau Negatif ?

Tren gap year – Setelah belajar di sekolah dasar dan sekolah menengah, saatnya memasuki dunia kuliah dan dunia kerja. Ekspektasinya, tahapan-tahapan tadi berjalan tanpa ada spasi. Tetapi, akhir-akhir ini mulai muncul tren ‘cuti’ atau gap year. Sebagian sudah familiar dengan kata tersebut, sisanya meraba-raba maksud dari istilah itu sendiri. Apa sih, sebenarnya gap year itu, Sobat Bias? Gap year di Indonesia adalah keputusan menunda kuliah selama beberapa bulan atau tahun atau dikenal juga dengan sebutan sabbatical year. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karl Haigler dan Rae Nelson pada tahun 2013, alasan anak muda mengambil keputusan untuk mengambil masa cuti ialah untuk beristirahat, menjernihkan pikiran, mempersiapkan untuk lanjut kuliah, mencari pengalaman di luar bangku kuliah, mengeksplor passion, dan masih banyak lagi.

Sudah tahu belum kalau awal mula tren masa cuti? Sebelum Perang Dunia I, anak-anak muda Jerman memiliki tradisi berkeliling Eropa untuk menemukan jatidiri dan memaknai proses pendewasaan. Tradisi tersebut identik dengan backpacking atau traveling. Bahkan muncul banyak panduan untuk melakukan perjalanan, seperti buku Lonely Planet. Bahkan ada pepatah yang mengatakan, “Pengalaman adalah Guru Terbaik”. Sebagai bekal hidup, tiap manusia butuh pengalaman, bukan? Nah, cara tiap manusia mendapatkan sebuah pengalaman ini tidak semuanya sama dan harus mengikuti arus.

Meskipun demikian, gap year di Indonesia masih terdengar agak negatif di lingkungan sekitar kita. Orang-orang yang belum memahami apa itu masa cuti sering memberikan stigma-stigma negatif, seperti “pemalas”, “bodoh”, “buang-buang waktu”, bahkan menganggap standar nya terlalu tinggi. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang yang mengambil masa cuti, seperti mengikuti bimbingan belajar, part-time, mencari lomba-lomba, volunteering, bahkan merintis bisnis. Keren nggak tuh, Sobat Bias?

Dampak Positif dan Negatif

Gap year itu bisa berdampak positif, bisa juga negatif. Ketika memutuskan mengambil masa cuti, kita sejenak mengusir rutinitas dan tekanan yang selama ini mengganggu. Saat itu pula, kita mencari ilmu dan melakukan suatu aktivitas dengan kesadaran penuh. Berikut ini dampak dari memutuskan untuk mengambil masa cuti.

1. Dampak Positif

Dengan mengambil masa cuti akan ada banyak hal yang kita dapatkan terutama untuk mengembangkan diri berupa kepribadian, skill dan menambah pengetahuan serta wawasan. Dampak positif tersebut dengan salah satunya kita megikuti kegiatan sosial kita dapat mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih mandiri, menambah jaringan sosial, lebih percaya diri berbicara didepan umum, menambah pengetahuan, wawasan dan menambah skill baru. Selain itu, akan muncul cara memandang dunia dan kesuksesan dari sisi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

2. Dampak Negatif

dampak negatif
Ilustrasi dampak negatif – sumber : id.theasianparent.com

Lalu bagaimana dengan dampak negatif jika kita mengambil masa cuti tersebut? Apabila seseorang hanya bermalas-malasan, terus menyalahkan diri sendiri dan orang lain, maka akan membuat diri semakin menjadi tertekan. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mencari informasi baru yang berguna bagi diri sendiri. Kemudian, gap year sendiri dalam pandangan masyarakat masih dinilai kurang bisa diterima, dan memerlukan biaya tambahan jika seandainya dalam masa cuti tersebut kita mengikuti kursus baik online maupun offline.

Meskipun jika kita sudah memutuskan untuk mengambil masa cuti, hasil akhir apakah berdampak positif ataupun negatif bagi diri kita, tetap kita yang akan menentukan hal tersebut. Jadi, Sobat Bias punya rencana melakukan aktivitas apa saja ketika gap year? (Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Belajar dengan Menyenangkan di Kala Pandemi