Ilustrasi - konsep belajar agus salim

Konsep Belajar #dirumahaja Keluarga Agus Salim

Sobat Bias nggak asing bukan dengan Agus Salim? Bukan bapak-bapak yang tinggal di gang sebelah lo ya, hehehe… Tetapi, bapak bangsa, salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Yang terkenal dengan diplomat jenaka dan seorang poliglot! Haji Agus Salim mendidik anak-anaknya dengan homeschooling, atau di rumah aja terkecuali anaknya yang terakhir. Meskipun hanya dididik di rumah, anak-anak Agus Salim bukan hanya sekedar kaleng-kaleng,… Lalu, bagaimana konsep belajar Agus Salim dalam mendidik?

Tentu timbul pertanyaan sebelumnya? Kenapa kok dididik di rumah aja? Kok nggak sekolah?

Dikutip dari pwmu.co, Agus Salim menganggap pendidikan saat itu adalah sistem pendidikan kolonial. Agus Salim tidak ingin anaknya dicekoki pemikiran dan kebudayaan penjajah.

Lalu, bagaimana metode yang dipakai oleh Agus Salim?

Bentuk pembelajarannya santai seolah sedang bermain, tidak ada kelas yang ditentukan, jam pelajaran pun nggak ada dan tempat bisa dilakukan bebas dimana saja. Zaenatun Nahar, istri Agus Salim mengajari membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan Agus Salim mengajar segala hal.

Misalnya pelajaran sejarah, Agus Salim menyampaikan seperti sedang membaca buku cerita. Tidak monoton dengan hafalan yang kaku, sehingga mereka tertarik untuk mencari ilmu sendiri lewat berbagai cara, salah satunya adalah dengan membaca buku.

Baca Juga: Bias Education Sebagai Wadah Berlatih Berlajar Di Bawah Tekanan

Selain itu, Agus Salim menerapkan sikap terbuka dalam memberi bimbingan sebaik-baiknya untuk putra-putrinya. Mengutip tirto.id, saat mengajar, ia tak keberatan dibantah. Dalam menerangkan persoalan, ia tak akan berhenti sebelum anak-anaknya paham.

Istri Agus Salim menceritakan bagaimana sikap suaminya dalam mendidik, “Kami dilarang memberikan kualifikasi kepada anak-anak, misalnya, ‘kamu nakal’ atau ‘kamu jahat’, itu tidak boleh.”

Salah satu kebiasaan baik yang diterapkan Agus Salim di keluarganya adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing di rumahnya. Dengan kebiasaan membaca tersebut, di usia balita mereka sudah lancar membaca maupun menulis dengan banyak bahasa.

Nah kisah Islam Basari Salim, anak keenam, menjadi tentara dengan pangkat kolonel dan pernah menjabat atase militer Indonesia di Cina, mungkin bisa jadi gambaran kesuksesan pendidikan di Keluarga Agus Salim.

Dikutip dari pwmu.co, semasa kecilnya, Islam Basari Salim yang sangat lancar berbahasa Inggris membuat jurnalis Belanda Jef last terkaget-kaget saat itu.

Melihat Jef Last terkaget-kaget dengan rasa tidak percaya, Agus Salim berujar: ”Apakah Anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah dimana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris” So, mari maksimalkan waktu di rumah dengan mandiri belajar, belajar dan belajar seperti yang selalu digaungkan di Bias Education. Bias Education! We Find Way!!!!

Baca Juga: Ketika Memilih Untuk Gap Year

Comments are closed.