Gap Year dan Stigma Negatif yang Melekat

Gap Year dan Stigma Negatif yang Melekat

Stigma negatif masyarakat terhadap gap year – Sobat Bias, bagi kalian yang memutuskan untuk menunda kuliah, kalian keren karena sudah berani mengambil keputusan yang besar di umur yang sekarang dan banyak orang yang tidak berani untuk mengambil keputusan besar seperti itu. Sebelum memilih menjadi gap year, pastikan kalian sudah memikirkannya matang-matang dan mengajak orang-orang di sekitar untuk berdiskusi. Tapi, pernah nggak sih, dapet ucapan kayak gini,

Nah, biasanya ini nih Sob Stigma Negatif yang Melekat di Masyarakat Umum

“Buang-buang waktu aja kamu!”

Mon maap ni, definisi buang waktu itu sebenernya gimana sih? Menurutku, membuang waktu itu kalau kita tidak berusaha meningkatkan kualitas diri dan cenderung membuat keputusan dengan tidak sadar. Beda halnya kalau keinginan gap year itu berasal dari diri sendiri, dan ‘masa cuti’ itu dimanfaatkan untuk pengembangan diri.

“Kamu nggak ngambil kesempatan!”

Sebelum memutuskan untuk mendalami suatu program studi, hendaknya kita melakukan riset melalui web universitas, pengalaman orang, dan sesuai dengan minat dan bakat. Nah, kita tidak bisa hanya coba-coba tapi nantinya malah tersiksa karena tidak sesuai harapan.

Baca juga : Gap Year, Siapa Takut?

“Dasar Pemalas”

Lumayan menggelikan sih yang satu ini. Bisa jadi orang yang dianggap pemalas itu malah sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk mengambil gap year. Hati-hati, bisa jadi mereka beberapa langkah lebih maju daripada orang yang hobinya merendahkan.

“Pengangguran ya?”

Wah, ini lagi! Kemungkinan orang yang model begini belum tahu kalau para gap year di luar sana sedang part-time, belajar bahasa asing, membaca buku, mengikuti berbagai lomba, bahkan merintis bisnis!

“Pasti Menyusahkan!”

Hei, para gap year ini justru sedang memperjuangkan mimpinya. Apalagi, anda tidak tingal satu atap dengan mereka, siapa yang berhak menjadi hakim untuk hidup orang lain? Jangan mudah menyimpulkan dan mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar kita ketahui.

“Nggak Pinter!”

Lah, iya dong. Makanya mereka ingin mendapatkan pembelajaran di bangku kuliah. Kalau sudah pintar ya mengajar saja lah. Tiap orang memiliki perspektif mengenai ‘pintar’ itu sendiri.

Jadi gimana dong kalau ternyata masih banyak stigma negatif mengenai orang yang gap year? Hal yang pasti harus kita lakukan adalah menerima kalau kita gap year, jangan menyangkal. Setelah itu, buktikan kepada mereka bahwa kita nggak layak untuk diremehkan. Manfaatkan benar ‘masa cuti’ ini untuk mengeksplorasi minat dan bakat, perluas pergaulan, perbanyak membaca buku, dan mengikuti kegiatan yang mendukung pengembangan diri. Kalau capek ya istirahat, jangan patah semangat. Kita berharga!

(Lena Sutanti, Belajar tentang manusia dan budayanya di Kota Lumpia)

Baca juga : Belajar dengan Menyenangkan di Kala Pandemi

Comments are closed.